Knapa Musti Segitu?

9 Agustus 2008

B

ukan mengingkari tradisi, bukan pula lari dari kenyataan, tapi kerana kita diberi akal dan pikiran, terkadang fasilitas itu saya gunakan secara berlebihan. Pikiran ini muncul saat saya SMP hingga sekarang.
Kenapa jumlah hari musti tujuh?. Kenapa ada Senin, Selasa sampai Minggu?. Kenapa nenek moyang kita tidak mewariskan hari cukup 2 saja, Sabtu dan Minggu?. Andai itu terjadi, alangkah nikmatnya. Sehari kerja, sehari libur. Tak ada upacara, tak ada malam Jumat yang menakutkan.
Analog dengan itu, kenapa sebulan musti 30 hari?. Kenapa tanggal sebanyak itu?. Kenapa tidak dua saja, tanggal 1 dan tanggal 2?. Semua pegawai pasti setuju, dua hari sekali gajian.
Mau?
Tapi kita perlu berpikir jauh...
Bayangkan andai nenek moyang kita bersepakat jumlah hari ada 60. Kita liburnya cuma 2 bulan sekali. Atau bayangkan seandainya tanggal ada 180, setahun kita hanya gajian 2 kali.
Maka...
Bersyukurlah kita diwarisi hari yang tujuh, jumlah hari yang cuma sekitar 30 sebulan.
Mari berterima kasih dan kita doakan nenek moyang kita.
Berdoa... Mulai.


Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

08 - 08 - 08

8 Agustus 2008

E

ntah saya orang keberapa yang membahas fenomena ini, meski semua tanggal, bulan dan tahun cuma datang sekali, tapi tanggal 8 Agustus 2008 dianggap istimewa untuk sebagian orang. Suatu kebanggaan tersendiri bagi keluarga yang anaknya lahir pada tanggal tersebut, karena mempunyai kombinasi yang unik bila dituliskan dalam notasi bilangan, yaitu 08 - 08 - 08. Ada yang tergila2 oleh tanggal tersebut sampai2 menurut berita di televisi ada yang operasi caesar paksa demi mengejar kelahiran anaknya di 08 - 08 - 08.
Bagaimana menurut Anda?

Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

ABG

6 Agustus 2008

M

enurut orang yang bukan guru, seorang guru haruslah:
hemat cermat dan bersahaja, rela tidak diberi tanda jasa, bekerja tanpa pamrih, tidak jual buku, menjunjung tinggi norma dan etika, mendidik tunas muda harapan bangsa, memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik, bisa berkomunikasi, berinteraksi secara efektif, efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, masyarakat sekitar, sabar dalam menghadapi murid, memotivasi murid agar selalu ingin maju, humoris supaya murid tidak jenuh, bijaksana.

Menurut Prof Herawati Susilo MSc PhD (dari titelnya jelas banget kalau orang ini bukan guru), ada 6 kriteria guru masa depan (ideal) yaitu:
belajar sepanjang hayat, literat sains dan teknologi, menguasai bahasa Inggris dengan baik, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas, rajin menghasilkan karya tulis ilmiah, mampu membelajarkan peserta didik berdasarkan filosofi konstruktivisme dengan pendekatan kontekstual, tidak gagap teknologi. Dengan sederet kriteria di atas, ternyata hampir semua tidak aku miliki.
Kesimpulannya, aku ini ABG (Aku Bukan Guru), malainkan "pengajar", yaitu orang yang matapencahariannya "mengajar".

Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Ejaan bin Edjaan

3 Agustus 2008

E

ntah sudah berapa kali ejaan dalam Bahasa Kita mengalami penyempurnaan, tapi dalam implementasinya pasti ada yang direpotkan. Ejaan lama sekali yang saya ketahui (karena tidak mengalami) adalah "oe" sebagai "u". Lalu penyempurnaan tahap dua (yang saya alami sendiri) adalah "tj" jadi "c", "dj" jadi "j" dan "j" jadi "y". Kalau itu menyangkut kata baku mungkin tidak begitu bermasalah, tapi ketika berhubungan dengan "istilah" maupun "nama", entah nama tempat, nama orang atau yang lainnya, situasinya demikian menyulitkan. Belum lagi yang berhubungan dengan "nama asing".
Karena saya mengalaminya sendiri, maka "kesulitan" itu demikian terasa. Nama Desa saya berubah, nama saya berubah, nama bulan berubah dll dll.
Saat pertama dilaksanakan, kesulitan yang paling besar adalah bagi mereka2 yang saat itu masih sekolah, karena tuntutan pertama pasti di dunia akademik. Saat itu saya masih SD. Kesulitan lainnya adalah tentang "singkatan", karena dengan penyesuaian tersebut, singkatan jadi begitu hancur. Contoh kecil saat itu adalah DAMRI, yang sudah enak ditelinga sebagai Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia, lalu harus berubah menjadi JAMRI. (Mely Jamri kali ye..). Beruntunglah orang tidak kurang akal, akhirnya singkatan sejenis tidak dipandang sebagai singkatan tetapi dianggap sebagai sebuah "kata" atau suatu "istilah". (lihatlah Bank BNI). Menurut saya, bahasa memang susah, tetapi bahasa dibuat ya karena untuk mengatasi kesusahan. Bingung kan?. Saya juga bingung kok. Apalagi kalau sudah sampai yang "ndakik2", saya bingung mana yang benar, kuitansi apa kwitansi, Februari apa Pebruari, Ujungpandang apa Ujung Pandang. Puncaknya adalah Yogyakarta apa Jogjakarta apa Jogja apa Yogya apa Ngayogyakarta apa Yogyes?.
Untuk bernostalgia, saya mau nulis satu baris menggunakan ejaan campur2.

"Kantjil njolong timoen, monjet tjari kajoe djati"

(Wah, ngetiknya musti ngati-ati...)

Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Random Post

Back to top

Sugeng

Selamat
Hari

Have
a nice day

~mars~