Pernikahan Adat Jawa

31 Agustus 2026

Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini menjadi fondasi spiritual yang kuat bagi kedua mempelai dalam memulai lembaran baru. Itulah mengapa, memahami setiap istilah dalam tradisi pernikahan adat Jawa merupakan langkah awal yang perlu dilakukan demi bisa menghayati kesakralan momentum tersebut sekali seumur hidup. Berikut adalah penjelasan mengenai dua belas istilah penting yang patut untuk Anda ketahui.

Peningset
Prosesi ini menjadi upacara penyerahan barang bawaan dari pihak keluarga pengantin pria kepada pihak wanita sebagai simbol ikatan komitmen, keseriusan, serta wujud tanggung jawab. Hantaran ini berisi seluruh perlengkapan kebutuhan calon mempelai wanita seperti alat ibadah, kosmetik, perhiasan, pakaian, hingga panganan tradisional.

Pasok Tukon
Sering disebut pula dengan istilah srah-srahan, namun bedanya, ritual Pasak Tukon dilakukan oleh keluarga calon mempelai pria menjelang hari besar untuk menyerahkan mas kawin atau mahar kepada keluarga pihak perempuan. Melalui musyawarah bersama untuk menentukan besaran nilai yang dapat meringankan beban hajatan, pihak pria akan membawa perlengkapan berupa pakaian lengkap (baju jangkep), cincin emas, kebaya untuk calon ibu mertua, sejumlah uang tunai, hingga bahan pangan pokok serta bumbu dapur.

Pasang Tratag dan Tarub
Pemasangan struktur ini menjadi penanda yang jelas bagi masyarakat sekitar bahwa sebuah keluarga sedang menyelenggarakan hajatan besar. Tratag merupakan konstruksi tenda kokoh bertiang besi dan beratapkan seng, sedangkan tarub adalah dekorasi pelengkap berupa anyaman janur atau daun kelapa muda yang disobek-sobek secara estetis untuk dipasang pada area gerbang masuk utama. Kehadiran janur kuning yang melengkung indah tersebut membawa harapan mendalam akan limpahan berkah, kemakmuran, serta petunjuk cahaya dari Yang Maha Kuasa untuk kelancaran acara. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan tratag kini umumnya digeser ke area dapur belakang, sementara bagian depan rumah beralih menggunakan tenda pelaminan modern yang berhiaskan bunga-bunga.

Pasang Tuwuhan
Secara bahasa, kata tuwuhan memiliki arti tumbuh-tumbuhan, yang sengaja ditempatkan di sekitar area ritual siraman sebagai simbol harapan pertumbuhan hidup yang baru. Ornamen alami ini terdiri atas setandan pisang raja yang telah masak, tebu wulung, kelapa cengkir gadhing, daun randu, serta rangkaian janur yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai pintu gerbang penyambutan. Penempatan buah-buahan terutamanya setandan pisang pada masing-masing sisi mengandung doa restu agar pasangan calon pengantin bisa segera dikaruniai buah hati pasca nikah.

Adol Dawet
Ritual adol dawet menampilkan momen di mana kedua orang tua calon pengantin bekerja sama menjual minuman dawet kepada para tamu serta kerabat yang hadir. Keunikan prosesi ini terletak pada sistem pembayarannya yang tidak menggunakan mata uang sah, melainkan memakai kreweng atau pecahan tembikar tanah liat yang melambangkan filosofi bahwa asal-usul segenap kehidupan manusia bersumber dari bumi. Dalam pelaksanaannya, sang ibu bertugas melayani para pembeli dengan menuangkan dawet, sementara sang ayah bertindak memayungi sang ibu dari terik matahari. Pembagian peran tersebut menjadi teladan bagi pasangan calon pengantin kelak, bahwa suami istri harus saling bergotong royong dalam mengelola rumah tangga.

Potong Tumpeng
Nasi tumpeng berbentuk kerucut yang dikelilingi oleh aneka lauk-pauk di atas nampan anyaman bambu bulat merupakan visualisasi dari sebuah gunung, yang dalam kosmologi Jawa dianggap sebagai simbol kemakmuran tertinggi serta kesejahteraan hidup. Prosesi pemotongan sajian ini dipimpin langsung oleh orang tua mempelai dengan mengambil bagian pucuk teratas beserta lauk pauk pilihan untuk diberikan kepada sang anak. Melalui potongan pertama, orang tua akan mengalirkan doa agar kehidupan baru yang akan ditempuh oleh anak mereka senantiasa dinaungi kelimpahan rezeki. Hidangan berupa tumpeng sejatinya mengisyaratkan rasa syukur yang mendalam atas segala anugerah yang telah diterima.

Pingitan
Pingitan merupakan tradisi protektif yang mewajibkan calon pengantin perempuan untuk mengisolasi diri dan dilarang menemui calon suaminya dalam kurun waktu tertentu menjelang hari akad nikah. Karena berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa, calon mempelai berada dalam kondisi rentan terhadap berbagai gangguan fisik maupun supranatural yang tidak diinginkan, sehingga pembatasan aktivitas di luar rumah menjadi langkah preventif yang mutlak dilakukan. Durasi pelaksanaan tradisi ini cukup bervariasi, berkisar dari hitungan beberapa hari hingga mencapai satu bulan penuh tergantung kesepakatan keluarga. Selama masa berdiam diri di rumah, Anda dapat memanfaatkan waktu untuk fokus melakukan perawatan tubuh tradisional, mengonsumsi jamu, atau berpuasa demi mempersiapkan kesiapan mental sekaligus memunculkan efek riasan yang manglingi saat hari pernikahan tiba.

Dulangan Pungkasan
Secara etimologi, kata dulang memiliki arti menyuapi dan pungkasan bermakna terakhir, sehingga prosesi ini merupakan momen haru di mana ayah dan ibu memberikan suapan makanan terakhir kali kepada anak tercinta. Ritual ini menjadi simbol dari puncak kasih sayang orang tua yang telah merawat sang anak sejak kecil hingga kedewasaannya. Selain sebagai ungkapan cinta, dulangan pungkasan juga menandai berakhirnya hak serta tanggung jawab penuh pengasuhan orang tua. Karena setelah akad nikah berlangsung, kewajiban tersebut sepenuhnya berpindah ke tangan pasangan hidup Anda yang baru. Suasana khidmat pun biasanya menyelimuti prosesi ini sebagai bentuk pelepasan restu demi kebahagiaan masa depan sang anak.

Midodareni
Berasal dari kata bidadari, midodareni merupakan malam tirakatan yang dilangsungkan satu hari sebelum akad nikah dengan keyakinan kuno bahwa para bidadari surga akan turun untuk memberikan aura kecantikan kepada calon pengantin wanita. Sepanjang malam, calon mempelai perempuan harus tetap berada di dalam kamar untuk berprihatin, melatih kendali diri, serta menerima petuah pernikahan dari sesepuh tanpa diperbolehkan menemui calon suaminya yang datang berkunjung. Di luar kamar, para tamu dan keluarga berkumpul melakukan tradisi leklekan (terjaga semalaman) di tengah kehadiran sesajen berupa dua mayang putri kembar serta wadah rempah-rempah yang terbungkus kain batik. Rangkaian malam ini melibatkan lima tahapan penting:

Jonggolan (Seserahan)
Kehadiran calon pengantin pria di halaman rumah tanpa masuk ke dalam ruangan guna menunjukkan kemantapan hati serta kesehatan fisiknya kepada calon mertua. Tantingan: Momen krusial saat orang tua mengetuk pintu kamar untuk menanyakan langsung keikhlasan dan kemantapan hati anak gadisnya untuk menikah. Kembar Mayang: Rangkaian dekorasi janur, dedaunan, dan bunga pudak berjumlah dua buah yang melambangkan pohon kehidupan penjamin kebahagiaan. Catur Wedha: Penyampaian empat pedoman hidup mendalam dari ayah mertua kepada calon menantu laki-laki sebagai bekal memimpin keluarga. Wilujengan Majemukan: Prosesi penutupan berupa pemberian buah tangan atau serangan balik dari keluarga wanita kepada keluarga pria sebelum mereka pamit pulang.

Panggih
Upacara panggih, yang memiliki sebutan lain upacara dhaup atau temu manten, menduduki posisi sebagai puncak tertinggi dari seluruh rangkaian selebrasi perkawinan adat Jawa. Prosesi sakral ini merupakan momen pertemuan formal pertama kali antara mempelai pria dan mempelai wanita yang dijalankan secara adat setelah keduanya dinyatakan sah sebagai suami istri berdasarkan hukum agama dan negara. Mengingat kedudukannya yang krusial, ritual panggih jamak disaksikan oleh seluruh tamu undangan karena menyajikan rangkaian tahapan unik yang sangat menghibur sekaligus sarat muatan filosofis. Di dalam upacara ini, Anda akan melewati serangkaian fase ritual mulai dari Penyerahan Sanggan, Balangan Gantal (saling melempar sirih), Wijikan (membasuh kaki), Kanten Asto, Tanem Jero, Ngunjuk Rujak Degan, Mapag Besan, hingga diakhiri dengan Sungkeman.

Kacar Kucur
Ritual ini berfokus pada tindakan simbolis yang menggambarkan peran penting suami sebagai penyedia nafkah utama serta istri sebagai pengelola keuangan rumah tangga yang bijaksana. Kata kacar merujuk pada aneka biji-bijian, kacang-kacangan, serta uang receh yang diletakkan di dalam selembar kain sindur, sedangkan kucur bermakna menuangkan atau mengucurkan isi tersebut. Saat prosesi berlangsung, mempelai pria akan mengucurkan seluruh isi kain tersebut ke atas pangkuan mempelai wanita secara perlahan tanpa ada yang tercecer, yang kemudian akan diteruskan oleh mempelai wanita kepada ibu kandungnya. Nilai filosofis yang tertanam di dalamnya mencakup pemberian rasa aman, pengayoman, ketenangan batin, serta bentuk penghormatan tinggi terhadap peran orang tua yang terus membimbing perjalanan pernikahan sang anak.

Ngunduh Mantu
Ngunduh mantu merupakan acara opsional, namun lazim digelar yang berfungsi sebagai sarana pengumuman resmi serta penyambutan menantu perempuan di lingkungan tinggal keluarga pria. Biasanya, ngunduh mantu diselenggarakan berselang lima hari setelah resepsi utama selesai. Seluruh keluarga mempelai wanita akan melakukan kunjungan formal atau tilik besan ke kediaman orang tua mempelai pria. Setibanya di lokasi, kedua pengantin akan melakukan sungkem sebagai tanda hormat tertinggi kepada orang tua pria sebelum akhirnya dipersilakan duduk bersanding di atas pelaminan. Sebagai bentuk penghormatan balasan yang santun, orang tua mempelai pria kemudian akan menjemput orang tua mempelai wanita untuk ditempatkan pada kursi khusus di sisi pelaminan agar dapat mendampingi anak-anak mereka bersama-sama.

Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Random Post

Back to top

Sugeng

Selamat
Hari

Have
a nice day

~mars~