K
etika aturan diterapkan pada tempatnya, maka kenyamanan, kedamaian, keberhasilan akan datang dengan sendirinya. Tapi ketika aturan diputarbalikkan, kehancuran tinggallah menunggu waktu.
Saya tidak sedang mengomentari siapa², tidak juga menyindir siapa², saya hanya berandai², saya hanya berhalusinasi dan berilusi (hobby gawan bayi).
Membayangkan, berhalusinasi dan berilusi sangat nyaman buat saya. Selain gratis, jangkauannya tanpa batas, bisa di hidden dan nirkabel.
Saat ini saya sedang berandai², andai saja aturan benar² diputarbalikkan.
Misalnya dalam olah raga. Apa yang terjadi manakala aturan sepak bola diterapkan dalam tinju?. Boleh ganti pemain, ada penalti. Kalau penalti, bagaimana ya... Mungkin petinju yang melanggar diikat tangannya ke belakang, lalu musuhnya bebas njotos sekali di bagian mana saja.
Lalu apa yang terjadi jika aturan bulu tangkis diterapkan dalam sepak bola?. Mungkin sebulan baru selesai, karena pindah tempat baru dilakukan setelah salah satu kesebelasan memasukkan 15 atau bahkan 21 goal.
Kalau militerisme dibawa ke sekolah bagaimana ya...
Saya mungkin tersanjung, kesana kemari pada dihormati yunior. Tapi repot juga. Mau masuk kelas musti langkah tegap, mau ninggalkan kelas musti penghormatan dulu. Kalau siswa saya tanya berapa 2 tambah 3, jawabnya akan bertele² karena siswa akan jawab "Siap lima !".
Yang paling enak buat kita adalah apabila makan di warung malah dapat bayaran dari penjualnya, naik bis dapat bayaran dari kondekturnya, beli laptop disangoni tokonya...
Tapi repot juga ya...
Guru mbayar SPP, murid dapat gaji. Wah, bisa bangkrut saya. Mugo² murid saya kagak ada yang mbaca. Lha kalau murid saya ramai² beri PR, kapan saya berhalusinasinya?
Suwi² kok malah malah medeni uwong. Sudah ah, saya mau tilik dunia nyata dulu...
Saya tidak sedang mengomentari siapa², tidak juga menyindir siapa², saya hanya berandai², saya hanya berhalusinasi dan berilusi (hobby gawan bayi).
Membayangkan, berhalusinasi dan berilusi sangat nyaman buat saya. Selain gratis, jangkauannya tanpa batas, bisa di hidden dan nirkabel.
Saat ini saya sedang berandai², andai saja aturan benar² diputarbalikkan.
Misalnya dalam olah raga. Apa yang terjadi manakala aturan sepak bola diterapkan dalam tinju?. Boleh ganti pemain, ada penalti. Kalau penalti, bagaimana ya... Mungkin petinju yang melanggar diikat tangannya ke belakang, lalu musuhnya bebas njotos sekali di bagian mana saja.
Lalu apa yang terjadi jika aturan bulu tangkis diterapkan dalam sepak bola?. Mungkin sebulan baru selesai, karena pindah tempat baru dilakukan setelah salah satu kesebelasan memasukkan 15 atau bahkan 21 goal.
Kalau militerisme dibawa ke sekolah bagaimana ya...
Saya mungkin tersanjung, kesana kemari pada dihormati yunior. Tapi repot juga. Mau masuk kelas musti langkah tegap, mau ninggalkan kelas musti penghormatan dulu. Kalau siswa saya tanya berapa 2 tambah 3, jawabnya akan bertele² karena siswa akan jawab "Siap lima !".
Yang paling enak buat kita adalah apabila makan di warung malah dapat bayaran dari penjualnya, naik bis dapat bayaran dari kondekturnya, beli laptop disangoni tokonya...
Tapi repot juga ya...
Guru mbayar SPP, murid dapat gaji. Wah, bisa bangkrut saya. Mugo² murid saya kagak ada yang mbaca. Lha kalau murid saya ramai² beri PR, kapan saya berhalusinasinya?
Suwi² kok malah malah medeni uwong. Sudah ah, saya mau tilik dunia nyata dulu...

| Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font. Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih. |







