B

agi sampéyan yang belum berumah tangga karena belum cukup umur, belum ada jodoh atau memang memutuskan ndak nikah, boleh ikut menyimak dengan seksama. Bagi yang sudah berkeluarga, boleh berintrospeksi, boleh mengiyakan dan boleh berkata tidak. Tulisan saya bukan referensi, bukan pula buku petunjuk. Ini sekedar pendapat, sampeyan silahkan berpendapat.
Kalau saya boleh mengibaratkan (sampeyan ndak memperbolehpun saya tetep mengibaratkan), rumah tangga kita adalah blog raksasa dan kita adalah adminnya.
(Sampai di sini saya merasa yang baca tulisan ini cuma lelaki).
Dengan basis blog dan template yang aneka rupa, pastilah satu dengan yang lain punya gaya dan warna yang berbeda. Ada yang warna-warni menyilaukan mata tapi miskin tema, ada yang sederhana ndak banyak warna tapi padat berisi, ada yang ada tapi tak pernah di update sama sekali. Demikian juga keluarga. Ada keluarga yang adminnya kelewat berkuasa, pihak lain sama sekali tak bisa ikut mewarnainya, tak mau menerima masukan dari manapun, sebaliknya ada keluarga yang adminnya lemah selemah-lemahnya, siapapun bebas ngedit dan ngacak2 keluarganya. Yang terbanyak adalah yang ada di antaranya, menerima masukan, tapi tak asal diiyakan. (Kayaknya posisi saya juga di situ)
Keluarga yang terbuka ibarat blog yang membuka diri buat pembacanya. Pembaca bisa nulis comment, ngisi shoutbox atau meninggalkan jejak di blog itu. Admin juga perlu menata widget. Sebagai kepala keluarga, kita perlu milah2, aksesoris mana yang cocok dan mana yang tidak. Kalau belum memerlukan, ya ndak usah pasang AC. Kalau berat dalam perawatan ya jangan memelihara burung mahal atau ikan arwana, kalau masih bisa lari biasa ya ndak usah beli alat statis yang harganya puluhan juta, kalau masih nyaman nonton RCTI, SCTV, TV One, Metro TV, Trans TV, Indosiar, TPI dan TVRI ya ndak perlu berlangganan TV kabel atau yg pakai parabola mini itu, kalau rumah kita sempit dan cicilannya belum beres ya ndak perlu beli perangkat home theatre + LCD proyektor, kalau masih nyaman pakai PC dengan prosesor celeron, ndak usah kredit laptop pentium 8, kalau nyaman klosèt jongkok ya jangan beli yang duduk kalau cuman buat kolèksi dowang. Ora wurung yo dithangringi...
Kecuali kalau semua dasarnya perlu dan ditunjang dengan finansial, silahkan pasang semua widgèt, mulai dari sulak yang bisa menyedot kotoran & kuman tak kasat mata, penyedot debu yang ada musiknya, mesin cuci yang bisa mencuci, mengeringkan sampai menyetrika sendiri, klosèt duduk yang sekaligus bisa pijat réflèksi, oven yang bisa mengolah masakan sendiri, kita cukup nyemplungkan bahan2nya, laptop yang bisa konèksi internèt tanpa bayar.
Hal lain yang mestinya terperhatikan adalah bahwa kita tidak hidup di ruang hampa. Jangan sedikit2 berdalih 'ini urusan rumah tangga', seolah tak boleh tersentuh oleh siapapun. Ingat saudara2, kita ini makhluk sosial. Ada bagian dari rumah tangga kita yang harus dipublikasikan, ada yang bagian yang terpublis tanpa sengaja, ada ranah publik di dalam rumah tangga kita.
Bagaimana denganblog rumah tangga sampéyan?
Kalau saya boleh mengibaratkan (sampeyan ndak memperbolehpun saya tetep mengibaratkan), rumah tangga kita adalah blog raksasa dan kita adalah adminnya.
(Sampai di sini saya merasa yang baca tulisan ini cuma lelaki).
Dengan basis blog dan template yang aneka rupa, pastilah satu dengan yang lain punya gaya dan warna yang berbeda. Ada yang warna-warni menyilaukan mata tapi miskin tema, ada yang sederhana ndak banyak warna tapi padat berisi, ada yang ada tapi tak pernah di update sama sekali. Demikian juga keluarga. Ada keluarga yang adminnya kelewat berkuasa, pihak lain sama sekali tak bisa ikut mewarnainya, tak mau menerima masukan dari manapun, sebaliknya ada keluarga yang adminnya lemah selemah-lemahnya, siapapun bebas ngedit dan ngacak2 keluarganya. Yang terbanyak adalah yang ada di antaranya, menerima masukan, tapi tak asal diiyakan. (Kayaknya posisi saya juga di situ)
Keluarga yang terbuka ibarat blog yang membuka diri buat pembacanya. Pembaca bisa nulis comment, ngisi shoutbox atau meninggalkan jejak di blog itu. Admin juga perlu menata widget. Sebagai kepala keluarga, kita perlu milah2, aksesoris mana yang cocok dan mana yang tidak. Kalau belum memerlukan, ya ndak usah pasang AC. Kalau berat dalam perawatan ya jangan memelihara burung mahal atau ikan arwana, kalau masih bisa lari biasa ya ndak usah beli alat statis yang harganya puluhan juta, kalau masih nyaman nonton RCTI, SCTV, TV One, Metro TV, Trans TV, Indosiar, TPI dan TVRI ya ndak perlu berlangganan TV kabel atau yg pakai parabola mini itu, kalau rumah kita sempit dan cicilannya belum beres ya ndak perlu beli perangkat home theatre + LCD proyektor, kalau masih nyaman pakai PC dengan prosesor celeron, ndak usah kredit laptop pentium 8, kalau nyaman klosèt jongkok ya jangan beli yang duduk kalau cuman buat kolèksi dowang. Ora wurung yo dithangringi...
Kecuali kalau semua dasarnya perlu dan ditunjang dengan finansial, silahkan pasang semua widgèt, mulai dari sulak yang bisa menyedot kotoran & kuman tak kasat mata, penyedot debu yang ada musiknya, mesin cuci yang bisa mencuci, mengeringkan sampai menyetrika sendiri, klosèt duduk yang sekaligus bisa pijat réflèksi, oven yang bisa mengolah masakan sendiri, kita cukup nyemplungkan bahan2nya, laptop yang bisa konèksi internèt tanpa bayar.
Hal lain yang mestinya terperhatikan adalah bahwa kita tidak hidup di ruang hampa. Jangan sedikit2 berdalih 'ini urusan rumah tangga', seolah tak boleh tersentuh oleh siapapun. Ingat saudara2, kita ini makhluk sosial. Ada bagian dari rumah tangga kita yang harus dipublikasikan, ada yang bagian yang terpublis tanpa sengaja, ada ranah publik di dalam rumah tangga kita.
Bagaimana dengan

| Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font. Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih. |







