Mata Uang Baru

20 September 2008
Saya bukan pengamat moneter, bukan pula pemakai valas. Saya juga tak pernah pedulikan kurs, karena tak ada pengaruh apapun buat saya. Kurs naik ataupun turun, penghasilan dan kebutuhanku ya segitu2 terus.
Kenapa rupiah seperti sampah?. Untuk ditukar $ 1 musti dengan 9.325 lembar rupiah. Bahkan lebih mahal 'daun' ketimbang rupiah. Lihatlah daun bayam yang beberapa lembar, jumlah rupiahnya jauh lebih banyak. Belum lagi kalau lembaran daun 'aunthorium'. Bahkan harga plastik pembungkus permenpun nilainya pasti lebih tinggi dari 1 rupiah Uang Nasional kita.

Saya pernah berpikir, kenapa tidak pakai mata uang 'Kelapa' atau Kp saja?.
Dasar pemikiran saya sederhana. Misalnya upah buruh sehari Rp. 24.000. Dengan asumsi harga kelapa Rp. 6.000 sebutir, maka upah buruh tersebut setara dengan 4 butir. Sepuluh tahun lagi, andai mata uang kita menggunakan satuan kelapa (Kp), maka dengan upah Kp. 4 sehari, buruh tadi akan merasakan hal yang sama dengan saat sekarang. Tapi bila dibayar pakai rupiah, meskipun 10 tahun lagi dibayar Rp. 40.000, si buruh tak akan mampu beli apa2, walau secara rupiah tampaknya naik.

Jadi,
Bersiap2lah dengan mata uang baru, 'kelapa' atau Kp.
Harga sebungkus rokok = Kp. 1,50
Harga sekilo beras = Kp. 1,25
Tiket Kereta Eksekutif Jakarta - Semarang = Kp. 40,00

Lalu lihatlah kurs yang akan terjadi.
1 US$ akan setara dengan Kp. 1,57
1 Euro = Kp. 2,13
1 Ringgit Malaysia = Kp. 0,77 dan
1 Yen Jepang cuma bernilai Kp. 0,02.

Opo ora hebat?


Sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun lagi, harga rokok tak jauh dari Kp. 1,50; harga beras juga sekitar Kp. 1,25 dan tiket kereta Jakarta Semarangpun tak berkutat dari Kp. 40,00

Selamat tinggal Rp... Selamat datang Kp...

Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

S3

19 September 2008

B
ukan sok keren seolah bergelar doktor, tapi sekali-kali ijinkan "Saya Sok Serius" atau S3 itu tadi. Karena saya bukan pengkhianat, maka sekali sekala saya akan nulis tentang Matematika juga, suatu ilmu yang telah memberi saya kecukupan dunia.

...

Perbedaan antara angka dengan bilangan


Sebuah angka digunakan untuk melambangkan bilangan, suatu entitas abstrak dalam ilmu matematika. Tetapi bagi orang-orang awam, angka dan bilangan seringkali dianggap dua entitas yang sama.

Memang bahasa Indonesia Endonesia belum cukup baku sebagai alat komunikasi dalam ilmu dan sains, sehingga belum ada konsesus resmi bahwa 'angka' dan 'bilangan' melambangkan dua hal yang sangat berbeda. Demikian pula, kedua kata angka dan bilangan masih sering dipertukarkan dengan kata nomor.

Kata nomor biasanya menunjuk satu atau lebih angka yang melambangkan sebuah bilangan bulat dalam suatu barisan bilangan-bilangan bulat yg berurutan. Misalnya kata 'nomor 3' menunjuk salah satu posisi urutan dalam barisan bilangan-bilangan 1, 2, 3, 4, ..., dst. Jadi kata nomor sangat erat terkait dengan pengertian 'urutan'.

Arti kata 'angka' lebih mendekati arti kata 'digit' dalam bahasa Inggris Enggres. Nampaknya belum ada kata dalam bahasa Indonesia yang merupakan terjemahan secara tepat dari 'digit'. Dalam hal ini, sebuah atau beberapa angka lebih berperan sebagai lambang tertulis atau terketik dari sebuah bilangan. Sesuai dengan arti kata 'digit', lebih baik pengertian angka dibakukan dengan batasan agar hanya ada sepuluh angka yang berbeda: 0, 1, 2 ..., 9.

Photobucket
Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Model Koran

18 September 2008








Klinik 24 jam, oke...
Pom Bensin 24 jam, oke...
Rumah Makan 24 jam oke juga... karena memang melayani 24 jam sehari dan habis melayani dapat kompensasi.
Tapi kalau guru?.

Apa profesi itu melekat 24 jam ?.
Kalau iya, berarti guru dapat lemburan dong. Tapi nyatanya guru tidak dapat insentip. Tapi nyatanya pula, oleh sebagian masyarakat yang non guru, tuntutannya terlalu berlebihan.
Guru dituntut seperti malaikat. Tindakannya tak boleh ada celanya, tidak sopan kalau guru ngomong bayaran, kalau ada guru lakukan hal tidak baik langsung profesi "gurunya" dibawa2.
Padahal seperti aku tulis di atas, bahwa guru itu tidak 24 jam.
Guru ya kalau di sekolah.
Setelah itu ya manusia biasa yang bisa khilaf, yang bisa salah, yang butuh biaya, yang pengin berpolitik,






yang pengin makan enak, yang nyekolahkan anak juga.
Apa yang bicara seperti itu tak punya profesi?.
Apa benar di dunia ini malah hanya ada dua profesi, yaitu guru dan bukan guru?. Aku guru, tapi aku malu menyanyikan Hymne Guru. Aku guru, tapi aku tak bangga dikatakan "Pahlawan tanpa tanda jasa", karena aku tak pernah merasa punya jasa. Aku hanya bekerja sebagai guru seperti pekerja lainnya, cari nafkah !. Tapi aku harus bangga sebagai guru, karena kakek dan bapakku juga guru. Berdosalah aku kalau kebanggaan itu tidak ada padaku, walau keguruanku ada unsur keturunan alias gen pembawa sifat.


[tulisan ini tidak mewakili suara guru, karena hanya buat latihan nulis model kolom, ya model koran...]


Photobucket


Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Meringis vs Merongos

17 September 2008

C
uma beda vokal, tapi implementasinya luar biasa. Mêringis bersifat temporer dan mudah diformat ulang, mêrongos bersifat permanen karena installan. Mêringis bisa dilakukan oleh siapa saja, sedangkan mêrongos hanya bisa dilakukan orang2 terpilih. Yang mêrongos cenderung menutupi kêmêrongosannya, yang mêringis bangga dengan kemêringisannya. Yang memprihatinkan adalah ketika ada yang mêringis saat melihat ada yang mêrongos, padahal yang mêrongos ada dalam ketidakberdayaan.

Tapi Tuhan Maha Adil. Beberapa orang bisa sukses justru dari merongosnya. Lihatlah nama2 beken seperti Bokir, Omas, Bon Jovi Teamlo, Boneng dll.


Sampéyan termasuk yang suka mêringis atau yang selalu mêrongos?


Photobucket
Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Semua adalah Biasa

16 September 2008

O
rang gemuk itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi di komunitas orang kurang gizi. Orang kurus juga tidak ada. Yang ada adalah orang biasa sedang melatih pesumo. Orang kaya itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi di komunitas orang miskin. Orang miskin tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi komunitasnya kongklomerat. Orang kuat itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi dikerumuni cacing. Orang lemah tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi dikelilingi kingkong. Orang tua itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi di kumpulnya dengan anak TK. Orang muda tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi tinggal di panti jompo. Orang lucu itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi di komunitas préman. Orang sangar tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi komunitasnya para pelawak. Orang pinter itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi di komunitas orang idiot. Orang bodoh tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi komunitasnya para cendekiawan. Orang crèwèt itu tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi di komunitas orang bisu. Orang pendiam tidak ada. Yang ada adalah orang biasa tapi komunitasnya para orator.


Kita adalah orang biasa, saya juga...

Saya biasa makan, biasa minum, biasa tidur, biasa mimpi, biasa melamun, biasa ngluyur, biasa bohong, biasa iri, biasa mendahulukan kepentingan sendiri, biasa tidak mengisi kemerdekaan, biasa ngrasani, biasa nulis sekenanya, sekedarnya, biasa begini, biasa begitu, biasa biasa aja...


Photobucket
Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Jangan2 Kita yang Ketinggalan

15 September 2008

S
ebagian kita berpendapat bahwa Bahasa Inggris adalah salah satu Bahasa Internasional, Bahasa Universal. Orang berbangga diri bila telah menguasai Bahasa Inggris. Tapi di sebalik itu sebagian besar lainnya masih kesulitan dengan bahasanya, misalnya bagaimana repotnya saudara kita yang berasal dari Jawa Tengah bila harus besanan dengan orang Sunda. Sama2 Jawa saja sudah repot, apalagi bila dengan Luar Jawa, atau bahkan Luar Negeri.

Jangan2 kita kalah sama binatang, yang sejak ribuan tahun lalu Bahasanya telah universal dan mendunia.
Kucing Jawa, Kucing Sunda, Kucing Uganda bahasanya sama. Kalau Konferensi Asia Afrika tak perlu penterjemah, kalau pidato tak perlu pakai teks.

Jangan terlalu yakin bahwa binatang tak berkomunikasi.

[Kalau ada ayam yang bisa bunyi "meong", berarti ayam tersebut telah lulus kursus bahasa asing]


Photobucket
Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Akhirnya Adsenseku Menghasilkan...

14 September 2008

B
ukan dari Google Adsense, bukan pula dari adsense aneh2 yang lain, apalagi dari yang jenis2 120 ribu jadi ratusan juta, tapi dari link banner sertifikasi yang saya pasang sejak 30 November 2007. Akhirnya kertas selembar ukuran A4 itu benar2 menghasilkan refferal tanggal 14 Agustus 2008 sebesar Rp. 5.729.340 (lima juta tujuh ratus dua puluh sembilan ribu tiga ratus empat puluh rupiah). Bagi saya, itu adalah jumlah yang lumayan spektakuler, melebihi imbalan apapun yang pernah saya dapatkan dari profesi saya.
Penantian panjang itu terjawab sudah. Alhamdulillah di saat saya butuh dana buat nguliahkan anak ragil saya yang tahun ini lulus SMA, Tuhan menjawab doa2 saya. Semoga berkah.
Sebagai rasa syukur, maunya slametan lewat blog, tapi karena fitur untuk itu belum tersedia, saya putuskan untuk memajang kembali adsense yang telah menghasilkan profit tersebut.




Maunya sich akan tayangkan buku rekeningnya, tapi karena belum mampu beli kamera digital maupun scanner, maka keinginan itu "wurung" alias "badhur".
Mohon maaf bila cara saya ini berlebihan, tapi semua ini sebagai wujud rasa syukur saya.

Photobucket
Postingan ini dilengkapi fasilitas pengaturan jenis dan ukuran font.
Pilih dan atur sesuai selera agar nyaman di mata. Terima Kasih.

Random Post

Back to top

Sugeng

Selamat
Hari

Have
a nice day

~mars~